-->
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Sunday, October 4, 2015

Kasih Sayang Yang Sebenarnya

Posted by Firda at 4:44 PM 0 comments
Aku menatap gundukan tanah di hadapanku. Memori - memori kelam kembali berputar di otakku. Aku tak pernah melupakan hari itu. Hari di mana aku kehilangan sahabatku.

Suara musik yang memekakan telinga membuat kepalaku sakit. Lampu warna - warni berkedip – kedip mengikuti dentuman musik. Aroma alkohol serta rokok menggelitik bulu hidungku. Aku tak mengerti mengapa orang - orang ini betah di tempat yang benar - benar jauh dari kata tenang. Bukankah mereka ingin melarikan diri dari masalah? Harusnya mereka tidak pergi ke tempat ini.

Aku memutar arah pandangan ke tiap sudut ruangan. Namun yang kutemukan hanyalah orang - orang yang sedang bercumbu dengan pasangan masing – masing. Mereka benar – benar membuatku mual. Ah, mana sih Riyadi. Aku berjalan menuju bar yang terletak di sebelah kanan ruangan. "Hai, cantik. Main sama aku yuk!" Seseorang mencolek daguku. Sontak, aku menepis tangannya.

"Duh, galak banget sih," Suara tawa menggema di seluruh ruangan. Lama –kelamaan semakin banyak saja laki - laki tidak jelas datang menghampiri ku. Dalam hati, aku terus berharap agar Riyadi melihatku dan membawaku pergi dari sini.

"Jangan ganggu pacar gue!" Kata seseorang di belakangku dengan lantang. Aku menoleh ke belakang dan ternyata orang itu adalah Riyadi. Aku segera berlari kearahnya dengan wajah ketakutan. Riyadi menggenggam tanganku erat, seolah - olah menegaskan bahwa aku adalah miliknya.

"Eh bos besar dateng. Jadi dia pacar bos? Yaudah kita undur diri kalo gitu." Dalam sekejap, gerombolan laki - laki itu menghilang. Aku bernapas lega. Aku teringat Riyadi masih menggenggam tanganku. Ketika aku ingin melepas tautan tangan kami, Riyadi makin mengencangkan genggaman ini. Ia menyeretku menuju pintu keluar. Aku terseok – seok mengikuti langkah kakinya yang panjang.

Sesampainya di parkiran, kami masuk ke dalam Jeep Wranglernya. Riyadi mengambil alih kursi pengemudi. Riyadi mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Wajahnya menyiratkan emosi yang siap meluap. Aku menunduk ketakutan sambil meremas ujung bajuku. Airmataku sudah tergenang di pelupuk mata.

“Di, pelan – pelan aja nyetirnya,” ucapku lirih. Riyadi semakin mengencangkan mobilnya seperti orang kesetanan. Aku sudah terisak di bangku penumpang.

“Di! Riyadi!”

Tiba –tiba Riyadi ngerem mendadak. Kami  terdorong ke depan. Untung saja aku bisa menahan tubuhku. Ku lihat Riyadi menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya yang bertumpu pada stir mobil. Lama – kelamaan tubuh Riyadi bergetar, aku mendengar isakannya yang begitu pedih. Ku usap punggung Riyadi, hingga akhirnya tangisan itu mereda. Riyadi mengangkat kepalanya, lalu menyenderkan tubuhnya di bangku pengemudi.

“Tolong jangan pernah ke tempat itu lagi.” Riyadi menekankan setiap kata yang di lontarkannya.

“Aku cari kamu. Kamu ingetkan malam ini kamu janji mau ajarin aku matematika. Aku tunggu kamu di cafe biasa, kamu nggak dateng – dateng. Aku hubungin iPhone mu, ternyata yang angkat seorang perempuan. Begitu denger suara musik DJ, aku langsung berpikiran kalau kamu ke tempat laknat itu lagi. Kenapa kamu kesana lagi, sih?!” Cicitku pelan.

Riyadi hanya diam, menatap kegelapan malam. Hanya ada beberapa lampu kecil yang menerangi jalan sepi ini. Tak ada bintang yang biasa menghiasi langit. Aku membuang pandanganku ke arah kaca samping. Riyadi masih belum mengeluarkan suaranya. Hingga aku merasakan mesin mobil ini berbunyi. Kami pun pulang diselimuti keheningan.

Esoknya, Riyadi tak masuk sekolah. Aku tidak tau keberadaannya sekarang. Ketika aku turun dari mobilnya kemarin, ia langsung tancap gas. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melihat ke arah ku saja tidak. Tadi sewaktu aku melewati ruang guru, kudengar banyak guru yang sedang membicarakan Riyadi. Guru – guru bilang, bahwa nilai Riyadi turun. Padahal Riyadi anak terpintar seangkatan. Pulang sekolah, aku bergegas menuju rumah Riyadi.

Aku naik ojek pangkalan, sebab supir keluargaku sedang sakit. Hari ini matahari begitu menyengat. Padahal sudah jam 03.00 sore. Belum lagi macet yang panjang sekali. Ditambah lagi polusi udara yang membuat sesak paru – paru. Kulihat, di setiap lampu lalu lintas ada anak kecil hingga orang dewasa yang sedang mengamen, mengemis, ada juga yang berjualan. Sungguh mirisnya kota metropolitan ini.

Aku berdiri di depan pintu gerbang rumah Riyadi. Nampaknya, rumah ini sepi sekali. Seperti tidak ada tanda – tanda kehidupan. Ku tekan bel rumah ini, tampak seorang satpam berlarian kecil. “Cari siapa, non?” Tanyanya.

“Riyadinya ada, pak?”

“Oh, ada. Kalau boleh tau, nona ini siapanya den Riyadi ya?”

“Temannya, pak.” Pak satpam menganggukan kepalanya dan mempersilahkan aku masuk.

Aku memasuki halaman rumah Riyadi. Mulai dari bunga mawar, lily, sepatu, kamboja baunya menyapa para tamu yang datang. Rumah Riyadi bak istana besarnya. Ah, maksudku rumah orang  tua Riyadi. Aku menekan bel yang ada di samping pintu. Keluarlah seorang wanita paruh baya mengenakan baju seragam pelayan.

“Silahkan masuk, non. Den Riyadi sudah menunggu di kamarnya.” Aku melangkah ke lantai dua, tempat kamar Riyadi berada. Aku sudah pernah ke sini, jadi aku tau di mana letak kamarnya.

Tok... Tok...

“Masuk,”

Aku membuka pintu kamarnya. Aku membulatkan mata, mulutku terbuka lebar menatap sekeliling kamar. Gila! Ini kamar apa kandang ayam? Aku menghampiri Riyadi yang sedang tengkurap di kasurnya sambil memainkan iPhonenya.

“Ya Allah, aku kira sakit, ternyata lagi bersantai ria,”

“Berisik.” Ketus Riyadi.

Aku berjalan menuju meja belajarnya, “Masih nggak mau cerita?”

Riyadi menganggap ucapanku bagai angin lalu. Ia masih saja fokus pada permainannya. Tiba – tiba suara pecahan benda dari lantai bawah yang terdengar nyaring di telingaku. Aku terkaget – kaget sampai hampir terjatuh dari kursi.

Prang

Riyadi melempar iPhonenya ke tembok. Aku memejamkan mata berusaha untuk mengatur detak jantungku. “Damn!” umpat Riyadi.

Riyadi mengambil jaketnya yang terselampir di pintu dan kunci di laci samping tempat tidurnya. Begitu sadar akan apa yang terjadi, aku bergegas mengejar Riyadi.

“KAMU LIAT! ANAK KITA JADI DURHAKA SEKARANG! GARA  - GARA SIAPA?! GARA – GARA KAMU! KAMU SIBUK DENGAN TEMAN SOSIALITAMU, SAMPAI ANAK KITA TERLANTAR!”

“KAMU JUGA SALAH! KAMU TERLALU SIBUK DENGAN KERJAANMU, SAMPAI KAMU LUPA DENGAN KELUARGAMU SENDIRI!”

Aku terpaku melihat pemandangan di bawah sana. Riyadi yang sudah berada di bawah memasang wajah datar melihat orang tuanya bertengkar. Otakku terlalu sulit menerima peristiwa yang terjadi di hadapanku sekarang. Hingga akhirnya terdengar raungan motor melesat begitu kencang. Seketika aku langsung tersadar. Riyadi... Di bawah sudah tak ada orang. Hanya serpihan kaca yang berserakan di lantai.

Aku berlari keluar dari rumah ini. Beruntung, ada taksi lewat di depan rumah ini. Aku menuju suatu tempat di mana aku yakin Riyadi ada di sana.

Lagi – lagi aku harus kesini. Ke tempat laknat yang di penuhi orang – orang bodoh. Begitu masuk, aroma khas dari tempat ini lagi – lagi menggelitik bulu hidungku. Tepat di bar yang kemarin aku datangi, aku melihat Riyadi. Ku hampiri dia yang sudah setengah mabuk.

“Riyadi,”

“Argh! Persetan dengan tua bangka itu. Mereka pikir aku bahagia? Hahaha,” Riyadi terus meracau seperti orang gila. Aku menangis melihat keadaannya.

“Najla, lo tau? Selama ini makanan gue cuma harta! Mereka pikir kasih sayang bisa di beli dengan harta? Miris ya hidup gue. Pagi nggak liat mereka, malem juga nggak liat mereka. Kerja aja terus dipikirin. Main aja terus yang dipikirin. Lupa kali ya mereka kalo udah punya anak. Hahaha,” Riyadi makin kacau. Kantung matanya hitam, pakaiannya kucel, rambutnya berantakan.

Aku pun menyeret Riyadi keluar club. Sampai di luar, Riyadi mendorongku hingga aku terjatuh. “Jangan tatap gue dengan muka kasihan.”

“Riyadi, kamu harus pulang!”

“Buat apa gue ke neraka itu lagi?” Riyadi menatapku kosong, namun aku tau. Dalam hatinya ia merasakan luka yang begitu pedih. Ia berjalan menyebrangi jalan seperti orang linglung, tiba – tiba suara klakson mobil terdengar.

“Riyadi! Awas!”

Dalam sekejap, tubuh Riyadi tergolek lemah di jalanan. Orang – orang berlarian ke arah Riyadi. Aku menangis histeris begitu orang – orang berkata Riyadi sudah tak bernyawa.

Aku menebarkan bunga di atas makam Riyadi. Sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Ku lihat dua orang paruh baya menangis tersedu – sedu sambil melontarkan kata maaf berkali – kali.

“Om, tante, jangan pernah sia – siakan seorang anak yang kalian miliki. Kasih sayang nggak bisa dibeli dengan uang. Riyadi butuh orang tuanya. Bukan harta orang tuanya. Permisi.”





Aku harap kamu bahagia di alam sana, Riyadi.

Friday, September 20, 2013

Keberanian Seorang Laki-Laki

Posted by Firda at 4:26 PM 0 comments
HAIIIIIIIIIIIIIIIIII HAHA-_- aku bawa cerpen pertama aku._. oke, ini tulisan aku pertama, maaf ya kalo jelek HAHA-_-


I hope you like it!


Disebuah SMP swasta di Jakarta, ada satu siswa bernama Riski Latuperissa. Ia seorang anak direktur besar di Jakarta. Ibunya sebagai dokter di Rumah Sakit ‘Arwana’ di Jakarta. Riski terbiasa hidup bermewah-mewahan. Ia sangat dimanja oleh kedua orang tuanya. Karena itu Riski menjadi anak yang pemalas dan penakut. Suatu hari.....

“Hey! Sekolah kita akan mengadakan kemah di Cibubur.” seru salah satu siswa heboh.

“Yeeeeeeaaaaayyy! Pasti seru tuh!” teriak Rio, teman sebangku Riski.

“Apanya yang seru?! Huh.. itukan merepotkan, harus masak sendiri, nyari makan sendiri, apa-apa sendiri, belum lagi ada acara tidak jelas dimalam hari. Nakut-nakutinlah.. huh.. itu lebay!” bantah Riski tak setuju dengan pendapat Rio.

“Riski! Kamu harus ikut acara itu! Dengan adanya acara itu kamu bisa terbiasa mandiri nanti.”

“Tidak! Pokoknya aku tidak mau ikut!”

Tiba-tiba Pak Dirman ,sang Kepala Sekolah datang.

“Selamat pagi anak-anak.” kata Pak Dirman.

“Pagi, Pak.” jawab seluruh siswa serentak.

“Anak-anak, bapak hanya ingin menyampaikan informasi, bahwa lusa tepatnya hari Sabtu kita akan mengadakan kemah didaerah Cibubur. Kegiatan ini wajib diikuti seluruh siswa. Buat kelompok, satu kelompok enam orang. Persiapkan diri kalian dan peralatan yang akan dibawa. Kalian boleh pulang karena guru-guru mau rapat. Terima kasih.” jelas Pak Dirman langsung pergi.

“YEEEEEEEEAAAAAAAAAAYYYYYYYYYYY” teriak seluruh siswa senang.

Seluruh siswa pun berhamburan keluar. Riski dan Rio berjalan menuju gerbang berdampingan.

“Ki, kamu dengarkan yang dibilang Pak Dirman?! Acara itu wajib!” kata Rio.

“Ya...Ya... liat nanti saja.” balas Riski berlalu.

*********************************************************************************

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Para siswa pun sudah berkumpul dilapangan.

“Aduh.... Riski mana lagi? Kok belum datang?” batin Rio panik.

“Hosh....hosh.....”                 
                                                                                     
“Riski! Akhirnya kamu datang juga.” kata Rio menghampiri Riski.

“Yaiyalah! Nanti Pak Dirman marah lagi kalau aku tidak ikut...uuhh” kata Riski kesal.

“Yaudah, ayo gabung kekelompok, mereka udah ada di bis.” ajak Rio sambil merangkul Riski.

Setelah beberapa jam perjalanan mereka tempuh, akhirnya sampai juga ditempat perkemahan. Mereka pun mulai membangun tenda masing-masing. Malam pun tiba. Acara malam pertama mencari jejak. Dengan cara berpasang-pasangan. Perempuan dan laki-laki. Riski dengan Fika, Rio dengan April. Lalu Pak Dirman memberikan arahan, tugas mereka mencari bendera yang sudah diletakan ditempat tertentu dengan bekal peta kecil.

“Widiih! Gelap banget.” batin Riski merinding.

“Hey! Kenapa diam? Kamu takut?” ledek Fika.

“Heh! Ya tidaklah! Aku kan laki masa takut sih!” balas Riski ketus.

Fika pun tertawa. Tiba-tiba.....

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” teriak Riski histeris.

“hahahhahah itukan Cuma kain yang digantung diranting pohon, katanya berani? Baru segini aja udah jerit-jerit.” ledek Fika.

Mereka pun jalan lagi. Namun....

“HUUUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Riski teriak lagi.

“Ki, ini cuma tali kok, kamu kan cowo masa takut sih?! Kamu itu harus jadi pemberani! Masa udah kelas 3 SMP penakut sih! Aku aja yang perempuan tidak takut! Kamu HARUS JADI PEMBERANI, KI!” dukungan Fika sambil membuang tali yang melilit dikaki Riski.

“Iya, aku akan coba jadi pemberani” balas Riski tersenyum.

Hari pun berlalu dengan cepat, malam esoknya adalah malam terakhir mereka berkemah. Dimalam itu mereka membuat api unggun. Mereka bersenang-senang hingga larut malam.

Pagi pun tiba, seluruh siswa melakukan upacara sebagai penutupan. Lalu kembali ke Jakarta. Setelah sampai di Jakarta, mereka turun didepan gedung SMP swasta itu. Lalu......

“Fika, makasih ya atas dukungannnya. Aku janji akan menjadi anak yang pamberani” kata Riski malu-malu.

“Iya, sama-sama, Ki” balas Fika sambil tersenyum.

“CIIIIIIIIIIIIIIIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE”

Semenjak itu Riski menjadi anak yang pemberani dan Ia lebih mandiri.

*TAMAT*


Unsur Cerita Pendek :
Tema                  : Keberanian seorang laki-laki

Tokoh                 : 1 . Riski Latuperissa
                                            2 . Rio Aprillio (Rio)
                                            3 . Pak Dirman
                                            4 . Stefika (Fika)
                                            5 . Aprilia (April)

Karakter           : 1 . Riski              : Penakut, manja, baik, sedikit cuek

                              2 . Rio                 : Baik, setia kawan,
                                    3 . Pak Dirman : Tegas
                                    4 . Fika                : Pemberani, mandiri, baik, lucu
                                    5 . April               : Baik

Latar                  : SMP swasta di Jakarta dan perkemahan Cibubur

Alur                    : Maju, karena cerpen ini menceritakan dari awal perjalanan tokoh yang penakut hingga akhirnya si tokoh jadi pemberani.


Amanat             : Jadilah anak yang pemberani dan mandiri, kelak dewasa nanti kamu akan sukses.

Ringkasan isi cerita :

Disebuah SMP Swasta di Jakarta ada siswa bernama Riski, Ia anak yang penakut dan pemalas. Suatu hari disekolah itu diadakan kemah di Cibubur. Dalam kegiatan yang dilakukan, Riski dipasangkan dengan Fika. Fika adalah anak yang pemberani. Ketika melakukan ‘misi’ yang diberi Pak Dirman. Riski ketakutan menjerit, kerena itulah Riski  dinasihatkan Fika agar Riski mencoba menjadi anak yang pemberani serta mandiri. Sejak itu Riski lebih berani dan menjadi anak yang mandiri. 
 

Babynemooos Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea